Rabu, 02 Desember 2015

Mahabharata

By With Tidak ada komentar:
AYAH, EPIK MAHABHARATA ITU BERKAITAN DENGAN APA?

Mahabharata itu berisi episode-episode, kisah-kisah, dialog-dialog, wacana-wacana dan kotbah-kotbah. Ia terdiri dari 110.000 sajak atau 220.000 baris dalam delapan belas Parwa atau bagian. Masing-masing Parwa itu adalah : Adi Parwa, Sabha Parwa, Wana Parwa, Wirata Parwa, Udyoga Parwa, Bhisma Parwa, Drona Parwa, Karna Parwa, Salya Parwa, Sauptika Parwa, Stri Parwa, Santi Parwa, Anusasana Parwa, Aswamedhika Parwa, Ashrama Parwa, Mausala Parwa, Mahaprasthanika Parwa, Swargarohana Parwa. Di luar dari delapan belas Parwa ini adalah puisi yang merupakan appendiks sebanyak 16,375 sajak, yang dikenal dengan nama Hariwamsa Parwa. Jadi secara total ada sembilan belas Parwa sekalipun beberapa orang suci tidak menganggap bagian terakhir sebagai Parwa penting. Mahabharata adalah puisi terpanjang di dunia. Bhagawad Gita adalah bagian dari Mahabharata.

DAPATKAN ANDA MENCERITAKAN PADAKU KISAH SEBENARNYA DARI MAHABHARATA? 

Sangat sulit mengisahkan cerita Mahabharata dalam beberapa kata. Walaupun demikian, mari kucoba mengisahkannya kepadamu secara singkat. Batara Brahma berputra Atri. Soma adalah putra Atri. Buddha dan Pururawas adalah putra-putra Soma. Ayus adalah putra Pururawas. Yayathi, Dhushyantha, Bharata, Kuru dan Santhanu lahir dari garis keturunan Ayus.

Raja Santhanu mempunyai seorang putra dari Dewi Ganga, dikenal sebagai Ganeya, Dewabrata, dan secara populer dikenal sebagai Bhisma. Setelah kelahiran Bhisma, Dewi Gangga berpisah dengan Raja Santhanu. Kemudian Santhanu jatuh cinta pada seorang wanita bernama Satyawati (dari suku nelayan). Ayah Satyawati membuat Bhisma bersumpah untuk membujang seumur hidup sebagai syarat diijinkannya putrinya kawin dengan Raja Santhanu. Dari Satyawati Raja Santhanu memiliki dua putra bernama Chitrangada dan Vichitravirya. Mereka menikahi dua putri dari raja Kasi, Ambika dan Ambalika. Chitrangada dibunuh oleh seorang Gandharwa (celestial being) dan Vichitravirya mati karena suatu penyakit. Tiba-tiba negeri itu tidak memiliki penguasa. Karena itu Ratu Satyawati mengundang putranya (dari Reshi Parasara), Reshi Veda Vyasa, untuk menghamili kedua putri itu. Putri Ambika melahirkan Dhristarashtra. Putri Ambalika melahirkan seorang putra bernama Pandu.

Veda Vyasa juga menghamili seorang gadis pelayan yang kemudian melahirkan Vidura. Pandu, sekalipun putra bungsu, menjadi raja karena kakaknya, Dhristarashtra buta. Pandu mengawini Kunti dan Madri, dan dari Kunti ia mempunyai tiga putra yaitu Yudhishtira (juga disebut Dharmaputra), Bhima dan dan Arjuna. Dari Madri ia mempunyai dua putra yaitu Nakula dan Sahadewa. Kelima putra Pandu secara bersama disebut Pandawa.

Dhristarashtra mengawini Dewi Gandhari, dan mempunyai seratus putra dan seorang putri. Putranya tertua bernama Duryodana dan putrinya bernama Dussala. Raja Pandu tiba-tiba meninggal, karena itu Dhristarashtra dinobatkan menjadi raja. Tapi ia sepenuhnya berada di bawah pengaruh putra tertuanya, Duryodana. Ketika Pandawa datang untuk menetap di Hastinapura, ibu kota, Duryodana berusaha melenyapkan mereka. Permusuhan antara Kaurawa dengan Pandawa akhirnya menimbulkan satu perang yang sangat hebat yang dikenal sebagai Perang Mahabharata. Krishna memihak Pandawa dalam perang ini. Dalam perang ini semua Kaurawa terbunuh. Setelah perang Yudhistira menjadi raja. Beberapa tahun kemudian, Krishna, bersama wangsanya yang disebut Yadava meninggalkan dunia ini. Segera setelah itu Yudhishtira dan saudara-saudaranya menyerahkan kerajaan kepada Parikshit, cucu Arjuna, dan para Pandawa pergi ke surga. Demikianlah secara ringkas epik besar Mahabarata itu.

AM I A HINDU (APAKAH SAYA HINDU ?)
Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra)


Ramayana

By With Tidak ada komentar:
APA SAJA EPIK YANG TERKENAL DAN SIAPA PENULISNYA?

Dua epik atau Ithihasa yang terkenal adalah Ramayana dan Mahabharata. Reshi Valmiki menulis yang pertama dan Reshi Veda Vyasa, putra dari Reshi Parasara, menulis yang kedua. Kisah mengenai Reshi Valmiki ada dalam Uttara Kanda, satu tambahan pada epik besar Ramayana.

BAGAIMANA KISAH VALMIKI?

Pada bagian awal dari hidupnya, Valmiki adalah seorang perampok jalanan tanpa nama. Ia biasa merampok orang-orang yang lewat untuk menghidupi anak-anak dan istrinya. Suatu hari Maharesi Narada lewat dan perampok itu menyerang orang suci itu. Narada bertanya pada Valmiki mengapa ia merampoknya. "Untuk menghidupi keluargaku," jawab perampok itu. "Ketika kamu merampok seseorang kamu juga menimbulkan banyak dosa. Apakah keluargamu juga mau memikul dosamu itu?" tanya Mahareshi itu. "Aku yakin mereka mau," jawab perampok. "Baiklah," kata Mahareshi, "mengapa kamu tidak mengikat aku disini, pulang, dan tanyai setiap orang apakah mereka siap membagi dosamu dengan uang yang kamu bawa pulang?" Perampok itu setuju. Dia mengikat Maharesi pada sebatang pohon dan lari ke rumahnya yang sederhana. Disana ia menanyai semua anggota keluarganya dengan pertanyaan, "Maukah kamu membagi dosaku?" Seluruh anggota keluarga termasuk istrinya, memberikan jawaban empati "tidak."

Untuk pertama kali dalam hidupnya, perampok itu memahami kebenaran. Dengan air mata berguguran di pipinya ia lari kepada Narada dan mamohon ampun. Mahareshi itu mengajari perampok itu bagaimana memuja Tuhan. Konon perampok itu begitu tenggelam dalam samadi sehingga semut-semut membangun bukit semut di sekitar dirinya. Akhirnya, setelah bertahun-tahun samadi, sebuah suara datang entah dari mana meminta perampok yang samadi itu untuk bangun dari meditasinya. Suara itu menamainya Valmiki, artinya "dia yang lahir dalam bukit semut. Inilah kisah Valmiki.

BAGAIMANAKAH KISAH DIBALIK PENULISAN EPIK RAMAYANA?

Ketika Valmiki berjalan melintasi hutan ia melihat sepasang merpati sedang berkasih-kasihan. Ketika Maharesi sedang terpesona oleh pemandangan itu, satu anak panah melewatinya dan mengenai merpati jantan. Merpati betina terbang turun dalam kesedihan dan menangisi kekasihnya yang sudah mati. Valmiki melihat pemburu itu dan menyebutnya bajingan, tapi segera merasa bahwa sebagai orang suci ia tidak pantas berkata seperti itu. Lalu sebuah suara dari langit berkata, "Oh! Valmiki, kata-katamu sangat puitis; jangan sedih. Inilah waktu yang tepat bagimu untuk menulis mengenai Batara Rama." Setelah menerima perintah dari suara di langit itu, Valmiki menulis puisi abadi Ramayana, kisah dari Batara Rama. Valmiki menulis seluruhnya sebagai narasi dari merpati betina yang menangis kepadanya. Pada awal setiap bab, dia membuat pembaca sadar mengenai fakta bahwa seekor burung yang menangis yang mengisahkan kisah agung mengenai Batara Rama.

TERDIRI DARI APA EPIK RAMAYANA ITU? 

Secara singkat, Ramayana adalah kisah dari Batara Rama dan Dewi Sita. Ia adalah satu puisi dengan 24.000 couplet. Kisah singkatnya adalah sebagai berikut. Pada suatu waktu adalah seorang raja bernama Dasaratha yang memiliki tiga istri, Kausalya, Kaikeyi dan Sumitra. Malangnya, Dasaratha tidak mempunyai anak dari ketiga istrinya, karena itu ia melakukan suatu upacara khusus yang disebut Puthra Kamesthi Yagam. Dari api upacara itu keluar satu obat mujarab untuk segala penyakit (elixir) yang diminum oleh ketiga ratu itu. Sebagai akibatnya, Kausalya mempunyai seorang putra yang diberi nama Rama, Kaikeyi mempunyai seorang putra yang diberi nama Bharata, dan Sumitra mempunyai dua putra yang diberi nama Lakshmana dan Shatrugna. Rama dan Lakshmana menjadi sahabat kental sejak masa-masa kanak-kanak sampai seterusnya, demikian juga Bharata dan Shatrugna.

Ketika anak-anak masuk masa remaja, Rama mengawini Dewi Sita, putri piatu dari raja besar Janaka. Setelah itu, raja Dasarata berpikir untuk meninggalkan singasana dan mengangkat putra mahkota Rama menjadi raja. Seluruh negeri bergembira mendengar berita itu, keculai Kaikeyi dan pelayannya Mandara. Akhirnya kecemburuan dan intrik Ratu Kaikeyi membuat Rama meninggalkan kerajaan dan pergi ke hutan bersama istrinya Sita dan saudaranya tercinta Lakshmana. Di dalam hutan, Sita yang malang diculik oleh Rahwana, raja-rakasasa dari Sri Langka. Rama datang membebaskan Sita dengan bantuan raja-kera Sugriwa dan perdana menterinya Hanuman. Dalam satu pertempuran besar, Rama menghancurkan Rahwana beserta pasukannya. Rama, bersama Dewi Sita, akhirnya kembali ke kerajaan Ayodhya.

Ramayana adalah puisi yang sangat digemari oleh orang-orang Hindu. Pestival Deepavali suci adalah perayaan kemenangan Rama atas raja-raksasa Rahwana. Deepavali atau Diwali - Pestival Cahaya - dirayakan di seluruh India.

Rama adalah Awatara dari Wishnu dan Ramayana adalah satu kisah yang memproyeksikan ideal-ideal atau cita-cita Hindu mengenai kehidupan. Rama adalah manusia sempurna, Sita adalah istri sempurna dan Lakshmana adalah saudara yang sempurna. Ada berbagai versi Ramayana. Versi Hindu ditulis oleh Reshi Tulsi Das. Versi Malayalam ditulis oleh Thuncheth Ezuthchan. Teks asli Ramayana ditulis dalam bahasa Sansekerta yang sangat indah.

Source :   -

Adi Sankara

By With Tidak ada komentar:
AYAH, AKU TAHU ANDA SANGAT TERTARIK DENGAN ADI SANKARA. AKU INGIN TAHU LEBIH BANYAK MENGENAI DIA.

Ya, anakku. Aku memang memuja dia bagaikan pahlawan. Dia pendiri dari philsafat Advaita. Dia adalah seorang suci dengan pengaruh seperti Kristus, tapi ia terkenal karena pendekatan philsafatnya dalam menafsirkan Weda-weda.

Dia adalah genius dalam segala bidang yang meninggalkan jejaknya dalam setiap aspek dari agama Hindu. Dia melaksanakan upacara kematian ibunya dan ia mengarang puisi dan doa-doa kepada dewa-dewi. Namun ia bicara tentang Brahman saja (yang sejati ada, pen) Swami Chinmayananda sering mengatakan , " Sankara mulai dimana Einstein berakhir." Demikian luasnya pengetahuan Sankara.

Dia lahir di Kaladi, kurang lebih enam mil dari Always, di negara bagian Kerala. Pada usia delapan tahun ia telah menguasai keempat Weda, dan pada usia duabelas tahun ia telah memahami seluruh kitab-kitab suci Hindu. Pada usia enam belas tahun ia telah selesai menulis banyak buku-buku penting, dan pada usia tiga puluh dua tahun ia meninggalkan dunia ini. Menurut para sejarahwan Barat Sankaracharya hidup antara tahun 788 dan 820 AD. Dikatakan bahwa ketika ia berumur delapan tahun ia pergi ke India Utara dan menjadi murid dari Gowinda Bhagavadpada, yang merupakan murid dari Gaudapada.

Kemudian Sankara pergi ke Banaras, dan disana Padmapada, Hastamalaka dan Totaka menjadi muridnya. Menurut beberapa orang, hari-hari terakhir dari Sankara dipergunakan di Kanchi, dimana ia meninggalkan badannya. Menurut beberapa orang, Sankara tidak pernah meninggal. Ia hanya hilang dari pandangan. Sekte Siwa percaya bahwa Sankara adalah Avatara dari Siwa.

Selama persinggahannya yang singkat di dunia ini, Sankara telah menulis banyak buku. Dia menulis komentar atas Bagawad Gita, Upanishad, Brahma Sutra dan Vishnu Sahasranama. Dia menulis dua buku manual bebas yang diberi nama Upadesashasri dan Vivekachoodamani. Ia juga menulis Adma Bodham dadn Bhaja Govindam. Dari semua sajak bhakti yang ia tulis, Saundarya Lahari adalah yang paling baik.

Dia juga mendirikan empat pertapaan (biara) di sudut-sudut India yang berbeda yang dikenal dengan nama Sankaramath. Keempat pertapaan itu adalah di Sringeri (Mysore), Bandrinath (Himalaya), Dwaraka (Gujarat) dan Puri (Orissa). Sankaramath di Kanchi (Tamil Nadu) adalah sebuah saka (cabang) dari Sankaramath di Sringeri.

Sama seperti Jesus Kristus, Sankara datang bukan untuk menghancurkan tapi untuk memenuhi kekosongan spiritual di India selama satu periode waktu tertentu dalam sejarah India. Sankaracharya menghentikan serangan gencar dari agama Buddha atas ide-ide Hindu dan mengembalikan agama Hindu pada kejayaannya sebelumnya. Menurut dia,"hanya Brahman satu-satunya yang ada; semua yang lain adalah maya atau ilusi. Jiwatman atau jiwa individu adalah Brahman itu sendiri dan sama sekali bukan yang lain. Manusia diikat oleh lingkaran reinkarnasi yang tiada akhir disebabkan oleh kebodohannya.

Kebodohan adalah akar sumber dari segala masalah. Pengetahuan menghapuskan kebodohan dan membebaskan manusia dari ikatan."

Sankara juga mengatakan, "perbedaan antara manusia dengan Tuhan adalah masalah derajat. Pada hakikatnya mereka adalah satu dan mahluk yang sama. Itu yang ada dalam manusia disebut Atman, dan itu yang memeluk seluruh alam semesta dikenal sebagai Brahman. Mereka adalah satu dan sama seperti ruangan dalam cangkir dan ruangan di luar cangkir adalah satu dan sama."

Sama seperti Tao dalam Taoisme, Allah dari Islam dan Ayin dari mistik Yahudi, Brahmannya Sankara tidak memiliki sifat-sifat, tidak memiliki bagian bagian dan kesadaran, dan juga abadi. Bila kamu membaca tulisan Sankara mengenai Brahman dan tulisan Lao-Tse mengenai Tao, keduanya tampak sama.

Agama Hindu berutang cukup banyak kepada Sankara. Pengajarannya adalah perwujudan yang sebenarnya dari kebebasan mutlak, dan ajaran-ajaran itu tidak dibatasi hanya pada satu kelompok tertentu dalam agama Hindu. Kamu harus berupaya membaca dan mempelajari semua buku-bukunya dalam hidupmu.

AYAH, PERNAHKAH SANKARA MENJELASKAN KENAPA BRAHMAN, YANG SEMPURNA DALAM DIRINYA SENDIRI, MENCIPTAKAN DUNIA YANG TIDAK SEMPURNA DAN PENUH MASALAH? 

Aku menyesal untuk mengatakan bahwa Adi Sankara tidak pernah enjelaskan pertanyaan ini dalam tulisan-tulisannya. Banyak Vedantis, termasuk istikus Aurobindo (1872-1950), telah menunjukkan masalah ini dengan teori-teori Sankara. Kenapa Brahman, yang sempurna dan lengkap dalam dirinya sendiri, mengembangkan jaring besar Maya atau ilusi dari esensinya sendiri? Bila Dia sempurna mengapa ketidak-sempurnaan datang dari dia? Bila Brahmannya Sankara mengatasi (transcends) semua perasaan-perasaan pribadi (personality feelings), bagaimana Dia membuat satu ciptaan dengan kesadaran? Menurut Aurobindo, Sankara tidak berhasil menjelaskan, atas prinsip-prinsip negativistiknya, mengapa Yang Mutlak harus turun kepada yang terbatas. Baik Mahabagawatam maupun Bhagavad Gita menyebut-nyebut hal ini dengan cara tidak langsung. Keduanya bicara mengenai ciptaan sebagai alat bantu atau perantara (instrumentality of creation). Srimad Mahabagavatam menyatakan bahwa adalah merupakan Leela (permainan suci) bagi Tuhan untuk menciptaan sesuatu.

Bhagawad Gita, pada sisi lain menyatakan bahwa adalah bagian dari alam untuk mencipta dan melahirkan (to create dan procreate). Malangnya, tidak ada kitab suci yang dengan jelas menjawab pertanyaan "kenapa dan apa" tentang penciptaan itu. Demikian juga dalam Kitab Kejadian (Genesis) kita melihat penciptaan sebagai alat bantu atau perantara, dimana Elohim berobah menjadi Jehovah ("I am" atau "Aku ada") dan menciptakan alam semesta dalam enam hari. Dalam Vedanta Sutra kata Leela (Lila, pen) - Permainan Suci digunakan untuk menjelaskan penciptaan sebagai ekspresi tanpa keinginan dari Tuhan (desireless expression of God). Kenapa Tuhan ingin menyatakan (mengekspresikan) dirinya? Aku kira kita tidak akan pernah mendapat jawaban atas pertanyaanmu dari siapapun dengan kemampuan manusia (yang terbatas) di dunia ini.

Sankara sendiri mengatakan bahwa sebuah pertanyaan seperti yang kamu ajukan tidak mempunyai dasar, karena alam semesta materi ini sesungguhnya adalah ilusi atau Maya, hanya kilasan khayalan semata. Kamu dan aku memiliki masalah karena kita tidak mampu mengatasi kerudung besar dari Maya itu. Sankara tidak pernah mengatakan bahwa dunia ini tidak penting. Ia hanya menunjukkan fakta bahwa dunia yang kita lihat bukan dunia yang nyata. Dunia yang kita lihat senantiasa berobah. Duduk dalam mobilmu, satu mil dari sini, air yang kamu lihat di jalan sementara memang nyata, tapi bila kamu dating lebih dekat kepada air itu apa yang kamu lihat menjadi bayangan udara. Perampok dalam mimpi yang menyerang kamu adalah nyata dalam mimpi. Dalam mimpi kamu berkelahi melawannya. Tapi ketika kamu bangun, kamu akan berkata kepada dirimu sendiri, "ini hanya mimpi." Sankara mengatakan seseorang akan mengatakan hal yang sama mengenai dunia pada saat ia menyadari atau mencapai pengetahuan yang benar. Apapun kritik yang ditujukan terhadap aspek-aspek yang lebih halus dari Advaitanya Sankara, aku pribadi merasa philsafat Advaita akan tetap ada selamanya. Bila besok seorang manusia dibuat di laboratorium, tanpa bantuan sperma dari laki-laki dan ovum dari wanita, hampir semua agama terorganisasi di dunia ini akan runtuh. Tapi philsafat Advaita dari Sankara sendirian akan tegak tinggi pada hari itu. Bila pada saat itu Sankara dapat membangkitkan tubuhnya sendiri, ia akan berteriak, "Tuhan menciptakan ilusi tapi kini manusia sendiri mulai melakukan hal itu!" Pada hari itu hanya philsafat Advaita yang akan bersorak kegirangan, semua yang lainnya akan hancur luluh.

APAKAH PHILSAFAT DVAITA?

Philsafat ini adalah philsafat mengenai dualitas yang disebarkan oleh Madhva (1197 AD), yang percaya bahwa bhakti (devotion) kepada Tuhan adalah sangat penting. Menurut dia, dunia ini adalah nyata dan ada satu perbedaan antara manusia dengan Tuhan. Realitas menurut dia ada dua macam, yang bebas dan yang tidak bebas. Tuhan satu-satunya realitas yang bebas. Materi dan jiwa manusia tergantung dan dikendalikan oleh Tuhan. Jiwa itu aktif dan bertanggung jawab untuk kebebasannya sendiri dari kelahiran berulang kali yang tak terhitung melalui bhakti kepada Tuhan.

Ramanuja, rasul pertama dari philsafat Dvaita, lahir kira-kira tahun 1050 AD. Ia adalah pemuja Wishnu. Dia mengambil jalan tengah antara philsafat Advaita dengan Dvaita. Reshi Ramanuja mengatakan bahwa Tuhan bukanlah prinsip yang tidak memiliki sifat-sifat, sebagaimana dikatakan oleh Adi Sankara, tapi adalah satu Tuhan berpribadi (Saguna Brahman) yang dapat dicintai dan dimengerti melalui bhakti. Ia mendebat Adi Sankara yang menolak bhakti kepada Tuhan ini. Tapi pada saat yang sama, Ramanuja percaya pada posisi tradisonal dari Wedanta mengenai kesatuan dengan Tuhan Yang Mahakuasa. Ia percaya pada prinsip Jivatman (jiwa individu) dan Paramatman (jiwa absolut) dan persatuan dari jivatman ke dalam Paramatman untuk mencapai moksha. Baik philsafat Advaita maupun Dvaita masih berjaya di India dalam kedudukan terhormat yang sama bahkan sampai dewasa ini. (Masih ada lanjutannya)

AYAH, AKU BINGUNG. BILA PHILSAFAT ADVAITA DAN DVAITA BERBEDA, YANG MANA YANG BENAR?

Seperti telah kukatakan sebelumnya, adalah normal sekali-sekali untuk dibuat bingung oleh kedua sistem philsafat ini. Sesungguhnya, kedua philsafat ini adalah satu dan sama tapi mereka beda hanya menurut dataran dari mana kita memandang mereka. Bila aku melihat kamu dan sebuah robot sebagai satu bundel elektron dan proton, maka kamu berdua adalah satu dan sama. Tapi bila dilihat dari dataran yang lain mahluk manusia sangat berbeda sekali dengan robot yang tidak bernyawa. Keduanya benar, tapi mereka berbeda dalam dataran persepsi. Wajah seorang model sangat cantik di depan mata telanjang, tapi akan buruk sekali di bawah mikroskop elektron yang sangat kuat. Ketika dataran persepsi itu berobah kebenaran yang dilihatnya juga berobah.

Tengoklah kepada cahaya yang dapat dilihat. Sir Isaac Newton berkata, "Cahaya bergerak dalam garis lurus." Albert Einstein, dengan quantum teorinya, memproklamirkan kepada dunia, "Cahaya bergerak dalam pola gelombang." Sekarang kita mempelajari keduanya, teori Newton dan Einstein mengenai cahaya dan menggunakannya untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Pada satu sisi cahaya adalah satu gelombang tetap dalam gerakan, dan pada sisi lain cahaya yang sama itu terbuat dari partikel-partikel independen dalam gerakan. Memeriksanya lebih jauh, cahaya itu adalah satu radiasi elektromagnetik dalam jarak panjang gelombang (range wavelength) termasuk infra merah, cahaya ultraviolet dan cahaya yang dapat dilihat, dengan kecepatan kurang lebih tiga ratus miliar meter per detik bila ia berjalan dalam ruang hampa.

Tanpa persepsi dualitas tindakan tidak mungkin. Kita dapat memahami (perceive) dunia ini hanya karena dia adalah satu seri dari dualitas yang bertentangan (rwa bineda). Manusia hanya dapat bertindak dalam satu lingkungan subyek-obyek. Menurut Taoisme, Satu Yang Mutlak itu (the Absolute One) menjadi dua dalam ciptaan.

I Ching atau Buku tentang Perobahan dari China yang terkenal itu, melihat alam semesta ini sebagai Yin dan Yang atau laki-laki dan wanita. Yin adalah kekuatan phisik dan emosional, dan Yang adalah kekuatan spiritual atau intelektual. Mereka sesungguhnya adalah dua aspek dari satu kekuatan absolut, sama seperti kutub utara dan selatan dari sebuah magnet. Pengikut Tao mencoba untuk memperoleh keseimbangan yang wajar antara Yin dan Yang. Dikatakan bahwa pemuka awal dari sistem pasangan (binary system) yang terkenal itu, Orang Jerman jenius Gottfried Wilhelm Leibniz, dalam tahun 1666 meletakkan dasar dari komputer elektronik modern berdasarkan atas ide-ide yang ia terima dari I Ching mengenai Yin dan Yang. Menurut dia, "satu" mewakili Tuhan, "nol" mewakili kosong (void), dan dari satu ke kosong segala sesuatu datang sama seperti satu dan kosong dapat menjelaskan ide-ide matematika. Jadi dalam sirkit-sirkit yang terintegrasi dari komputer modern, kita dapat melihat sistem Advaita dan Dvaita.

Dengan menjaga tombol mocroscope eletronik pada sebuah komputer modern dalam posisi "on" atau "off", mewakili satu dan kosong, manusia sesungguhnya telah menciptakan satu dunia impian. Semua masalah-masalah rumit dunia ini oleh sebuah komputer elektronik hanya dilihat sebagai posisi "nol" dan "satu", sebagai "off" dan "on" dari sejumlah besar nomor tombol. Ini kedengaran mengagetkan pikiran, tapi itulah sesungguhnya kebenarannya. Aku harap dengan contoh-contoh di atas akan sangat mudah untuk memahami mengapa philsafat Advaita dan Dvaita mempunyai posisi penting yang sama bagi orang Hindu.

Dan lagi, tidak ada pemisahan yang ketat antara aliran philsafat. Adi Sankaracharya sendiri menulis beberapa puisi bhakti untuk bentuk-bentuk Tuhan yang berbeda. Sama seperti Taoisme, Adi Sankara tidak menolak dunia materi atau kehidupan yang biasa, tapi meminta para pengikutnya untuk mengunakan dunia materi dan kehidupan biasa itu mengatasi (transcend) dunia materi itu. Doktrin Maya, yang telah banyak sekali ditulis oleh Adi Sankara, tidak menyatakan bahwa dunia ini tidak nyata tapi bahwa persepsi kita mengenai dunia ini salah. Persepsi kita mengenai dunia ini adalah relatif, tergantung atas waktu, ruang dan penyebab (causation). Kata Maya biasanya dijelaskan oleh orang-orang suci Hindu sebagai "peniadaan" (negation) dan "karena itu ayo hentikan semua tindakan." Penjelasan semacam itu sangat jauh dari kebenaran dan melawan semua ajaran Bhagawad Gita. Kata ilusi berasal dari bahasa Latin yang berarti "memainkan permainan" (to play the game). Jadi kita tidak dapat menghentikan tindakan sampai tindakan secara alamiah berhenti dalam hidup kita atau sampai kita melihat "tidak-bertindak dalam tindakan dan tindakan dalam tidak-bertindak" (inaction in action and action in inaction) seperti dijelaskan dengan panjang lebar oleh Bhawagad Gita.

Kepada sebagian orang philsafat Advaita akan menarik dan kepada sebagian yang lain philsafat Dvaita akan menarik sesuai dengan sifat-sifat individu mereka masing-masing. Secara pribadi, aku merasa kedua philsafat ini merupakan bagian tak terpisahkan dari satu philsafat besar, seperti kutub utara dan kutub selatan dari sebuah magnet. Kedua philsafat ini membantu agama Hindu untuk secara sungguh-sungguh mengeksplorasi wilayah-wilayah tak dikenal dari hidup kita. (Masih ada lanjutannya, satu kali lagi)

APAKAH ANDA MENYIMPULKAN, AYAH, BAHWA ADVAITA MUNGKIN BENAR TAPI BAHWA DVAITA ADALAH SISTEM YANG DAPAT DIPRAKTEKKAN? 

Aku kira aku telah menjelaskan hal itu. Anyway, mari kujelaskan sekali lagi. Bila kamu melihat philsafat Advaita dan Dvaita sebagai dua philsafat yang berbeda, maka Advaita adalah Kebenaran Mutlak. Tapi bila kita hidup dalam satu dunia hubungan subyektif - obyektif, kita dipaksa bertindak dibawah prinsip-prinsip Dvaita. Bahkan Sankara sendiri tidak sama sekali menolak prinsip-prinsip Dvaita, seperti ditunjukkan oleh contohnya yang termashur mengenai "tali dan ular" dalam komenternya atas Karika Gaudapada. Seorang manusia yang melihat seutas tali sebagai seekor ular dalam kegelapan dipaksa mengalami stres mental karena harus menghadapi seekor ular. Kemudian, ketika ia menemukan bahwa ular itu sesungguhnya hanya seutas tali, ia mungkin akan berpikir betapa bodohnya dirinya. Tapi tak seorangpun dapat menyalahkan orang itu karena melihat tali sebagai ular dalam kegelapan.

Seseorang mengalami mimpi melihat seekor harimau mengejarnya. Dalam mimpinya ia mencoba lari dari harimau itu. Tanpa bergerak seincipun dari tempat tidurnya, ia merasa lari bermil-mil jauhnya melalui hutan onak-duri, tapi ketika ia tiba-tiba terbangun ia berkata kepada dirinya sendiri, "ini hanya mimpi." Pengalaman menyedihkan yang ia alami dalam mimpi tiba-tiba hanya menjadi suatu kebodohan ketika ia bangun. Menurut Adi Sankara, kita akan merasakan hal sama mengenai dunia materialistik ini ketika kita bangun dari mimpi materialistik ini.

Pada saat yang sama, semua dari kita harus berjuang di dunia dualitas ini sepanjang kita melihat dunia ini sebagai dualistik dalam sifatnya. Berteriak-teriak mengenai Advaita tidak akan membuat kita menyadari kesatuan kita dengan alam semesta ini. Tapi, bersama Sankara, banyak sekali guru-guru telah menyatakan kemampuan mereka untuk melihat dunia ini sebagai Advaita - satu kesatuan (one entity). Para santo sufi adalah contoh sempurna. Bila kamu mencari, akhirnya kamu akan mencapai keadaan dari para Sufi itu dan Adi Sankara.

Source :   Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra)

Jnana Yoga

By With Tidak ada komentar:
APAKAH JNANA YOGA ATAU DARSANA?

Jnana Yoga atau Darsana dikenal sebagai philsafat Hindu. Pada intinya ada enam sistem Jnana Yoga. Semuanya berdasar pada Weda-Weda dan dikembangkan dari teori reinkarnasi. Semua jalan menuju kepada keselamatan. Enam sistem Jnana Yoga adalah sebagai berikut :

1. Sistem Samkhya. Inilah sistem philsafat yang tertua di dunia. Sistem ini didirikan oleh Reshi Kapila. Sistem ini mengakui tidak ada Tuhan berpribadi (personal God). Sistem ini melihat alam semesta dengan kekuatan-kekuatan Purusha (jiwa) dan Prakriti (materi).

2. Sistem Yoga. Kata yoga berasal dari akar kata "Yuj," artinya "memasang kuk" (to yoke, bhs Bali "uga") atau "menggabungkan" (to join). Sistem Yoga mirip dengan sistem Samkhya. Idenya didasarkan pada dualisme (melihat alam semesta sebagai dua - subyek dan obyek) dan tidak bicara mengenai satu Tuhan berpribadi. Sampai tarap tertentu ia bicara mengenai Tuhan sebagai obyek tak bernyawa dengan kata "Itu" (It). Raja Yoga dan Hatha Yoga adalah Yoga yang paling penting.

3. Sistem Mimamsa. Tokoh-tokoh utama dari cabang philsafat ini adalah Reshi Kumarila dan Prabakara. Sistem Mimamsa didasarkan atas penghindaran kelahiran kembali. Mimamsa berarti mulainya Weda-weda. Pendiri sebenarnya dari sistem ini adalah Reshi Jaimini, murid dari Reshi Veda Vyasa. Jaimini menulis buku Mimamsa Sutra, yang merupakan buku paling berpengaruh dari sistem ini.

4. Sistem Vaisheshika. Ini artinya "kekhususan" (particularity). Sistem ini adalah aliran atomis dalam philsafat Hindu. Sistem in didirikan oleh Reshi Kanada, ia menulis buku Vaisheshika Sutra. Philsafat ini mengajarkan bahwa alam semesta ini dibuat dari sembilan unsur : bumi, air, udara, api, jiwa, pikiran, ether, ruang dan waktu. Tuhan tidak disebut-sebut dalam sistem ini. Tuhan hanya disebut sebagai "Itu" (Tat)

5. Sistem Nyaya. Sistem ini didirikan oleh Reshi Gauthama. Ia menulis buku yang disebut Nyaya Sutra. Sistem ini utamanya membahas analisis secara logika mengenai dunia dan sifatnya yang atheistik. Sistem ini menyerupai sistem Vaisheshika.

6. Sistem Vedanta dibagi menjadi sistem Advaita dan Dvaita. Vedanta artinya "akhir dari Weda-weda", mengindikasikan bahwa ini ditulis berdasarkan atas Upanishad-Upanishad yang ada sesudah Weda-Weda. (Sistem Mimamsa sebenarnya merupakan permulaan dari Weda-weda dan didasarkan atas ideologi Wedik). Sistem Wedanta didirikan oleh Reshi Badaryana (Veda Vyasa), yang menulis buku bernama Vedanta Sutra atau Brahma Sutra. Doktrin sentral dari Wedanta adalah Tuhan (Brahman) dan jiwa individu (Atman) adalah satu dan sama. Menurut sistem ini, tiada suatupun ada kecuali Brahman. Masalah manusia bukan dosa tapi kebodohan. Kebodohan atas sifat sebenarnya dari diri-sendiri menghasilkan lingkaran lahir dan lahir kembali tanpa akhir.

Philsafat Advaita dan Dvaita adalah dua cabang yang paling penting yang muncul dari sistem Wedanta. Tokoh terbesar dari philsafat Advaita adalah Reshi Adi Shankaracharya.

Melalui komentarnya atas Upanishad dan Brahma Sutra, Shankara mengukuhkan sistem Wedanta. Tokoh-tokoh besar dari sistem Dvaita adalah Reshi Ramanuja dan Madhva. Teori Shankara mengenai Advaita adalah bahwa hanya ada satu kenyataan (realitas) dan itu diketahui sebagai Brahman, sementara itu Ramanuja dan Madhva berpendapat bahwa realitas itu ada dua: yang bergantung dan tidak bergantung (dependent and independent). Tuhan adalah tidak bergantung (independent). Materi dan jiwa adalah tergantung kepada Tuhan dan dikendalikan oleh Tuhan.


Source :   Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra)

Brahma Sutra dan (Kitab-Kitab) Agama

By With Tidak ada komentar:
MOHON JELASKAN PADAKU APA BRAHMASUTRA YANG TERKENAL ITU?

Brahma Sutra adalah sejumlah pernyataan-pernyataan singkat mengenai seluruh ajaran Upanishad. Brahma Sutra juga dikenal sebagai Vedanta Sutra. Kitab-kitab ini menjelaskan secara mendalam hakikat dari Tuhan (Brahman).

SIAPA PENGARANG DARI BRAHMA SUTRA?

Maharesi Badrayana (Veda Vyasa) adalah pengarang dari Brahma Sutra.

APA ITU (KITAB-KITAB) AGAMA?

Kitab-kitab itu adalah kitab-kitab Smriti. Agama artinya "kitab suci" (scripture). Kitab-kitab itu adalah sekelompok literatur mengenai pemujaan Tuhan dalam banyak bentuknya dan kitab-kitab itu menjelaskan secara rinci pelatihan disiplin bagi para bhakta.

ADA BERAPA BANYAK KITAB-KITAB AGAMA?

Seperti Upanishad ada banyak kitab-kitab Agama. Mereka secara luas dapat dibagi dalam tiga kelompok utama menurut Dewa yang dipuja, yaitu - Wisnu, Siwa dan Sakta. Tiga kelompok dari kitab-kitab Agama ini menimbulkan tiga cabang dari agama Hindu, utamanya Waisnawa, Siwa Sidhanta dan Sakta. Waisnawa Agama memuja Yang Mahakuasa sebagai Wisnu, Siwa Agama memuja Yang Makakuasa sebagai Siwa. Sakti Agama memuja Yang Mahakuasa sebagai Ibu dari Alam Semesta ini. Percaya atau tidak, tidak ada kitab Agama untuk Brahma.

Siwa Sidhanta memiliki 28 Agama dan 108 Upagama (pengajaran yang lebih kecil, lesser teachings). Shakta mengakui 77 Agama. Terpisah dari ini, Shakta memiliki sejumlah besar kitab-kitab Tantra. Waisnawa menganggap Pancha Ratra Agama yang paling penting dari semuanya. Mohon jangan kacaukan ini dengan karya Pancha Tantra yang tidak lain adalah kisah-kisah. Satu dari buku yang paling popluler dari Vaisnawa Agama adalah Wisnhu Samhita.

Tiap-tiap Agama terdiri dari empat bagian :

1. Philsafat,
2. Disiplin mental,
3. Peraturan membangun Pura,
4. Praktek-praktek keagamaan. Semua kitab Agama berdasar pada Sruti.

APAKAH CARA YANG BERBEDA UNTUK MENCAPAI TUHAN?

Pada intinya ada empat cara untuk mencapai Tuhan dalam agama Hindu yang secara luas dikenal sebagai Yoga atau Marga. Kata Yoga berarti "Persatuan dengan yang Suci" (Union with the divine). Tentu saja kata Yoga dipergunakan dalam banyak cara yang berbeda dalam agama Hindu.

Dalam buku Amarakosa, Yoga diberi arti mulai dengan "alam" (nature), "keadaan keselamatan" (the state of salvation), ketetapan (determination) "bab" (chapter) "ciptaan" (creation), "persatuan" (union), "pandangan logis" (logical view) dan bahkan juga "persiapan perang" (preparation of war). Dalam Bagawad Gita, kata Yoga dipergunakan dalam setiap awal bab untuk menandainya. Sebagai contoh, Arjuna Vishada Yoga berarti "bab mengenai kebimbangan Arjuna"

Keempat Yoga itu adalah :

1. Jnana Yoga (Marga) - jalan pengetahuan
2. Bhakti Yoga (Marga) - jalan pemujaan (devotion)
3. Karma Yoga (Marga) - jalan kerja
4. Raja Yoga (Marga) - jalan yang didasarkan atas praktek pranayama dan pengendalian pikiran

Cara atau jalan yang berbeda itu tidaklah dipisahkan secara ketat, sebaliknya mereka saling bercampur satu sama lain.

Source :   Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra)

Charvaka - Philsafat Materialisme dalam Hindu

By With Tidak ada komentar:
AYAH, APAKAH BENAR BAHWA AGAMA HINDU SUATU KETIKA MEMPUNYAI PHILSAFAT MATERIALISTIK?

Ya memang. Pendirinya adalah Charvaka. Buku terpenting dari sistem ini adalah Brihaspati Sutra. Saya menjawab kamu dalam kalimat masa lalu, sebab sejauh yang ku ketahui tidak ada lagi sekarang di India. Kita hanya mempunyai kutipan dari buku itu dari pengarang-pengarang lain yang menolak philosophi Charvaka.

Philsafat Charvaka dikenal dengan nama philsafat Nastika dalam agama Hindu sebab philsafat ini bebas atau tidak tergantung dari ide-ide dan prinsip-prinsip Weda. Ia menolak keberadaan Tuhan dan menganggap agama sebagai suatu penyimpangan.

Menurut philsafat ini, dunia materi adalah nyata dan hanya ia sendiri yang ada; pengetahaun kita mengenai hal ini berasal dari persepsi indriya. Materi dibuat dari udara, tanah, api dan air. Kesadaran hanyalah satu fungsi dari materi, jiwa berarti badan, tidak ada kehidupan sesudah mati, tidak ada Tuhan, dunia menciptakan dirinya sendiri, mengejar kesenangan adalah tujuan hidup. Weda-Weda ditulis oleh badut-badut. Hukum Karma tidak memiliki dasar. Philsafat ini mengatakan, "Nikmati hidup selama kamu bisa, sekali kamu dikremasi, kamu tidak akan pernah kembali ke bumi ini."

Aku dapat terus menyebutkan aspek-aspek yang berbeda dari philsafat inidan semua itu akan kedengaran seperti suatu philsafat Atheistik dewasa ini. Untuk sangat berterus terang kepadamu, aku rasa banyak dari pernyataan-pernyataan dalam philsafat ini persis seperti ucapan bumi ini datar (ini pernyataan dalam kitab suci agama rumpun Yahudi, pen) dan seterusnya tanpa dasar yang memadai. Pada saat yang sama, kehadiran dari philsafat ini saja dalam agama Hindu menunjukkan simbol yang amat penting dari toleransi Hindu. Dalam agama-agama lain, rasul (penyampai) dari philsafat seperti ini sudah akan disalib atau dibakar hidup-hidup.

Seperti kukatakan sebelumnya, philsafat ini tidak ada lagi di India dewasa ini dan semua buku-buku agama Hindu tidak menyebut bahkan bahwaphilsafat ini pernah ada pada suatu zaman. Aku rasa philsafat ini berasal dari atau diakibatkan oleh kekakuan orthodoksi Hindu pada zaman dahulu, dan, pada saat yang sama, philsafat ini mati dengan sendirinya karena kemudian adanya kebebasan pemikiran yang amat luas dalam agama Hindu.

Source :   Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra)


Panchatantra dan Artha Shastra

By With Tidak ada komentar:
APAKAH PANCHATANTRA (LIMA BUKU)?

Buku-buku itu adalah kumpulan kisah-kisah yang diceritakan oleh seorang bijaksana yang bernama Vishnusharman kepada beberapa pangeran untuk mengajari mereka mengenai urusan-urusan dunia. Di balik setiap cerita ada satu moral, menunjukkan arah yang tepat dari tindakan yang harus diambil oleh seorang yang bijaksana. Ia juga mengajarkan ilmu ketatanegaraan dan pengertian yang benar mengenai sifat-sifat manusia. Dalam kisah-kisah ini kejahatan diungkapkan melalu karakter dari binatang-binatang. Bagian yang paling penting dari kisah-kisah ini dimainkan oleh dua ekor serigala, Karataka dan Damanaka. Konon buku fabel Hindu yang terkenal ini ditulis pada tahun 200 AD. Salah satu dari buku terbaik dari buku-buku Panchatantra ini diterjemahkan oleh Arthur W. Ryder (University Of Chicago Press, 1925). Terjemahan bagus yang lain ditulis oleh Mr. D. Ghosal, diberi nama "Tiga puluh lima cerita dari Panchatantra" (Thirty Five Stories From the Panchatantra", Kalkuta, 1925)

AYAH, APAKAH ARTHA SHASTRA?

Artha Shastra adalah kode etik untuk para raja yang ditulis oleh Perdana Menteri Dinasti Mourya yang tidak begitu suci (not-so-saintly prime minister) yang bernama Kautilya atau Chanakya. (Arti literal dari Kautilya adalah bengkok, tak lurus, tak jujur (croockedness) atau pengkhianat (treachery). Artha Shastra dipersembahkan untuk Venus dan Jupiter, dan membahas doktrin Nyaya dan Atharwa Weda. Percaya atau tidak, persis seperti Dead Sea Scrolls (Bagian dari Injil yang berbentuk gulungan yang ditemukan di Laut Mati, pen), kitab ini baru ditemukan pada tahun 1905. Buku ini dibagi dalam lima belas bagian membahas berbagai subyek politik dan masyarakat. Di samping membahas mengenai pemerintahan yang benar, buku ini juga mengajari tentang sistem spionase yang efektif. Buku ini juga mengajarkan tentang cara-cara menyiksa musuh. Ia mengajarkan berbagai cara menyiksa badan, seperti dipecut sampai mati, penyiksaan dengan tabung air dan segala macam pemotongan organ tubuh dan lengan. Inilah doktrin yang paling sinis yang pernah dikenal manusia. Ia juga merupakan kitab hukum pidana yang sangat ganas.

APAKAH HUKUM-HUKUM HINDU BEROBAH DARI WAKTU KE WAKTU?

Biasanya memang seperti itu. Maharesi-maharesi besar yang membimbing agama Hindu dari satu zaman ke zaman lain melakukan perobahan-perobahan sesuai dengan kebutuhan zaman.

JADI HINDU MEMPERKENANKAN DIBUATNYA HUKUM BARU?

Ya. Dewasa ini masyarakat Hindu telah berkembang menjadi sangat besar, dan sayangnya kebanyakan dari orang Hindu hanya tahu kisah-kisah mitologis dan beberapa baris dari Bagawad Gita.

APAKAH ITU BERARTI HINDU AGAMA YANG MATI?

Sama sekali tidak. Karena kita tidak mengetahui banyak dari kitab-kitab suci kita, itu tidak berarti kita bodoh mengenai ide-ide, cita-cita dan kode-kode, peraturan-peraturan agama Hindu. Sebagian besar orang Hindu mempraktekan agama Hindu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Keluarga mereka, kehidupan sosial dan profesional mereka adalah cerminan dari agama Hindu yang mereka praktekkan, dengan sadar ataupun tidak sadar. Karena kita mengikuti kode etik Hindu, kita memiliki lebih sedikit noda dan stres (stain and stress) dalam hidup kita. Aku tahu anakku, kamu sangat ingin menanyakan pertanyaan khusus tapi mari kita teruskan dulu sejarah dan perkembangan agama Hindu.


Source :   Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra)

Hukum Manu (Code of Manu)

By With Tidak ada komentar:
AYAH, APAKAH KODE/HUKUM MANU?

Kode Manu adalah aturan etika yang ditulis oleh Reshi Manu. Sangat sedikit yang diketahui mengenai Manu. Dalam mitologi, dia dikenal sebagai Manu Svayambhuva. Kode Manu dikenal sebagai Manusmriti atau Manu-Shamhita atau Manawa Dharmashastra. Inilah buku hukum pertama dari agama Hindu. Menurut mitologi Hindu, Manu mendiktekan hukumnya dalam seratus ribu sloka kepada Reshi Brighu, yang pada gilirannya mengajarkan kepada Reshi Narada. Narada, berdasarkan pertimbangan sendiri mengurangi aturan itu menjadi dua belas ribu sloka. Buku hukum ini kemudian dikurangi lagi menjadi delapan ribu sloka oleh Reshi Markandeya. Percaya atau tidak, Reshi yang lain, Sumathi, menguranginya lagi menjadi empat ribu sloka. Akhirnya, reshi lain yang tidak dikenal, mengurangi lagi menjadi 2.685 sloka.

Kode Manu memiliki dua belas bab dan ini menyentuh semua sisi kehidupan manusia, seperti kewajiban menghormati orang tua (2:225-229), penyesalan dan pengakuan (dosa) (11:228-231), pelaksanaan upacara korban (3:69-81) Upacara penyucian perang (memberi persetujuan atau pembenaran atas suatu perang, sanctioning of wars) (7:87-201), makanan yang dilarang dan dibolehkan (5:11,17), dan pelanggaran dan penyesalan (11:49-266).

Salah satu bagian penting dari Buku Manu adalah penjelasan mengenai system kasta yang populer. Manu menulis, "Untuk pertumbuhan dunia, Brahman menciptakan Brahmana (golongan pandita), Kshatriya (golongan prajurit, warior), Waisya (golongan pedagang), dan Sudra (golongan pekerja manual, phisik).

Mengenai kewajiban-kewajiban wanita (Buku 5), Manu menulis bahwa seorang gadis, seorang wanita muda, bahkan seorang wanita berumur, tidak dapat melakukan apapun secara independen, bahkan di dalam rumahnya sendiri. Dia harus dilindungi oleh ayahnya selama masa anak-anak, oleh suaminya selama dalam perkawinan, dan oleh putra-putranya ketika tua. Tidak ada upacara (korban), sumpah atau puasa dapat dilakukan oleh seorang wanita tanpa suaminya.

Buku 1 memberikan penjelasan mengenai penciptaan. Manu mencatat penjelasan yang sangat lengkap dan teliti mengenai penciptaan alam semesta. Pada mulanya alam semesta lahir dari kegelapan, dan Tuhan menciptakan dunia, cahaya dan air, demikian urutannya. Dari air keluar satu telur emas dan dari dalam telur emas itu Dia sendiri lahir sebagai Dewa Brahma (Tuhan Pencipta). Kemudian Dewa Brahma menciptakan seorang Laki-laki dan seorang Wanita.

Kode manu juga menyebut mengenai teori reinkarnasi. Manu menulis, "Manusia mendapat kehidupan yang tidak bergerak (tanaman, pohon, dll) sebagai hasil dari kejahatan yang dilakukan dengan badan, hidup sebagai burung-burung dan binatang buas sebagai hasil kejahatan yang dilakukan dengan ucapan, dan kehidupan terendah sebagai hasil kejahatan yang dilakukan dengan pikiran."

Buku 2,3,4,5 dan 6 menjelaskan empat tahapan hidup manusia. Yaitu, Kaumaram (masa muda), Garhastyam (hidup berumah tangga), Vanaprastham (hidup sebagai pertapa) dan Sanyasam (meninggalkan hidup sehari-hari). Selama masa Kaumaram seorang manusia diharapkan menjadi Brahmacari 100% (membujang). Selama masa Grihasta manusia diharapkan untuk kawin dengan perjaka atau gadis. Bila karma seseorang sebagai kepala rumah tangga sudah selesai dilaksanakan dan bila ia sudah berumur, dia diharapkan mencari perlindungan di hutan dan menjadi pertapa dan akhirnya menjadi Sanyasin. Hidup sebagai Sanyasin berarti penyerahan kehendak bebas seseorang kepada kehendak Tuhan.

AYAH, APAKAH ADA SATU KISAH DALAM AGAMA HINDU YANG MIRIP DENGAN KISAH PERAHU NOAH DALAM TORAH?

Dalam agama Hindu ada satu kisah yang sangat mirip dengan kisah perahu Noah (Nuh). Menurut salah satu kisah dalam kitab-kitab suci Hindu awal, yaitu Satapatha-Brahmana, ketika Manu sedang mandi di laut seekor ikan mampir di tangannya. Ikan itu berkata "pelihara aku, nanti aku akan menyelamatkan kamu dari banjir besar." Pada mulanya Manu tidak percaya tapi kemudian memutuskan untuk mengikuti permintaan ikan itu. Manu menaruh ikan itu dalam gentong kecil. Ketika ikan itu tumbuh melebihi gentong, Manu menaruhnya di kolam kecil. Kemudian ikan itu tumbuh besar melebihi kolam kecil itu dan menjadi raksasa. Kemudian ikan itu menasehati Manu untuk membuat sebuah perahu dan mengingatkan dia akan adanya satu banjir besar yang akan menghancurkan seluruh dunia. Manu mengikuti nasehat ikan itu dan membuat sebuah perahu. Ikan ini adalah Avatara pertama dari Batara Wisnu, secara populer dikenal dengan nama Matsya Avatar. Ketika banjir besar itu tiba, Manu memasuki perahu. Banjir itu menghanyutkan atau membawa perahu itu ke puncak sebuah gunung. Banjir itu menghanyutkan semua mahluk, dan hanya Manu sendiri yang selamat hidup.

Setelah banjir surut, Manu turun ke lembah. Dikisahkan bahwa ia bekerja memulai kehidupan untuk selama 4.320.000.000 tahun (waktu untuk empat Yuga. Krita atau Sathya. Treta, Dvapara dan Kali). Orang-orang Hindu percaya bahwa kisah ini akan selalu berulang pada setiap awal dari alam semesta yang tak terhitung jumlahnya.

JADI MANU BUKAN NAMA SESEORANG TAPI SATU TITEL?

Kamu benar sekali. Nama Manu berarti Kepala Keluarga Penguasa Bumi (Patriachal Earth Ruler). Manu datang dan pergi pada setiap awal penciptaan alam semesta dalam waktu yang tak terbatas. Masing-masing Manu hidup untuk jangka waktu yang disebut Manvantara (periode Manu). Menurut salah satu kisah mitologis, satu Kalpa (8.640.000.000 tahun manusia) terdiri dari empat belas Manu atau Para Manu. Empat belas Manu adalah :

1. Svayambhuva (Manu Pemberi Hukum, law-giver);
2. Svarochisha;
3. Uttama;
4. Tamasa;
5. Raivata;
6. Chakshusa;
7. Vaivasvata (Noahnya Hindu, Manu dewasa ini);
8. Savarna (akan datang);
9. Daksha Savarna;
10. Brahma-Savarna;
11. Dharma Savarna;
12. Rudra-Savarna;
13. Rauchya;
14. Bhautya.
Seperti telah kukatakan sebelumnya, semua para Manu ini datang dan pergi dalam siklus yang tak berakhir.

AYAH, AKU TAHU MANU MELIPUTI BANYAK SUBYEK. TOLONG BERITAHU AKU BAGIAN MANA YANG PALING MENARIK BAGIMU?

Konsepnya mengenai waktu dan peryataannya bahwa alam semesta menjalani siklus lahir dan pralina tiada henti yang paling menarik perhatianku. Manu menjelaskan waktu sbb ; Bila kelopak mata bergerak delapan belas kali, waktu yang berlalu disebut Kashta; tiga puluh Kashta disebut satu Kala; Tiga puluh Kala manjadi satu Muhurta; tiga puluh Muhurta menjadi satu hari dan satu malam.

DENGAN SEGALA HORMAT KEPADA KODE MANU, AYAH, TIDAKKAH ANDA PIKIR PERNYATAANNYA MENGENAI WANITA MERUPAKAN OMONG KOSONG BESAR? BAGAIMANA PULA IA MEMBUAT SISTEM KASTA YANG MERUPAKAN NODA BESAR BAGI AGAMA HINDU? SAYA BAHKAN SEDIH MENGAKUI INI SEBAGAI SATU BAGIAN DARI AGAMA HINDU.

Aku sepenuhnya bisa mengerti perasaanmu dan aku sepenuhnya setuju dengan pernyataanmu. Tetapi mohon dimengerti bahwa melalui kode Manu, kamu menyaksikan satu masyarakat sedang berkembang mengambil pijakan di tepi-tepi sungai di India Utara. Sebagian besar dari kodenya dimaksudkan bagi masyarakat pada masa itu dan ia tidak memiliki hubungan apapun dengan masyarakat modern dimana kita hidup. Sama halnya, bila kamu membaca Perjanjian Lama, khususnya Exodus, kamu akan melihat pernyataan-pernyataan berkaitan dengan perlakuan terhadap budak-budak, dsb.(Al Quran juga masih mengijinkan perbudakan, pen). Kita semua tahu bahwa kamu tidak dapat memperlakukan siapapun sebagaimana mereka memperlakukan budak-budak selama waktu Perjanjian Lama.. Seperti telah kukatakan padamu sebelumnya, sejarah adalah bagian dari setiap kiab suci, karena itu kita tidak dapat menghakimi secara tergesa-gesa pernyataan-pernyataan yang berbeda di dalamnya. Satu masyarakat yang menjadi dewasa dalam zaman kegelapan sudah pasti akan banyak melakukan kesalahan.

Semua agama di dunia ini telah memberikan kedudukan terhormat kepada laki-laki dan memberikan posisi yang merendahkan kepada wanita. Mohon dimengerti bahwa pada titik itu dalam sejarah, wanita merupakan gologan seks yang lebih lemah secara emosi juga phisik. Dewasa ini, tiada seorangpun akan bermimpi untuk membuat satu pernyataan seperti itu. Ingat, demokrasi yang paling populer di dunia, India, telah memiliki satu pemimpin puncak yang adalah wanita, dan semua dari kita di seluruh dunia masih bangga dengan mendiang Indira Gandhi.

Orang-orang boleh setuju atau tidak setuju dengan kebijaksanaannya tapi semua topi terangkat untuk keberanian dan kemampuannya. Dia adalah, menjadi apa yang dia inginkan, Joan Arc of India. Mohon jangan lupa bahwa Manu, yang membatasi kebebasan wanita, juga berkata, "wanita harus dihormati dan disayangi oleh ayah dan saudara laki-lakinya, oleh suami, dan juga oleh saudara-saudara ipar, yang sangat mengharapkan kemakmuran. Dimana wanita dihormati, disana para Dewa akan gembira, tapi dimana mereka tidak dihormati, disana semua upacara akan sia-sia." Sama halnya, aku harus katakan kepadamu bahwa sistem kasta merupakan noda bagi agama Hindu.

Aku tidak berpikir bahwa ada orang yang berpikir benar akan mendukung sistem kasta. Ini hanya membantu satu golongan untuk mendominasi golongan lain dan juga menyebabkan sejumlah besar konversi orang-orang Hindu ke dalam Islam dan Kristen. (Faktor lain yang juga menyebabkan konversi itu adalah tekanan kekerasan dan kekuasaan, pen). Mohon juga diingat bahwa Buddha tidak mengakui sistem kasta. Jadi sistem kasta mungkin timbul karena kebutuhan tertentu, tapi dengan berlalunya waktu, ia menjadi kutukan atas agama Hindu dari pada sebuah rahmat. Gandhi berkata, " bila kechandalaan merupakan bagian dari agama Hindu, saya akan meninggalkan agama Hindu."

Source :   Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra)

Dharma Sutra

By With Tidak ada komentar:

Mohon jelaskan padaku, siapa pembuat hukum pertama dari Agama Hindu  (The Law-Givers of Hinduism?).

Mereka adalah Maharesi Manu, Yatnavalkya, Parasara dan Gauthama.

Apa nama kitab hukum mereka?

Nama buku-buku hukum mereka adalah Dharma Sutra

Apa isi dari Kitab-kitab Dharma Sutra itu?

Kitab-kitab Dharma Sutra merupakan bagian dari kitab-kitab Vedanga. Kitab-kitab itu memberikan penjelasan yang sangat rinci mengenai aturan tingkah laku dan kewajiban manusia pada tahap hidup yang berbeda serta hak-hak dan kewajiban-kewajiban para raja. Kitab-kitab itu juga menjelaskan masalah-masalah keagamaan seperti upacara penyucian (prayascita) dan penguburan. Kitab-kitab ini juga menjelaskan hak-hak dan kewajiban-kewajiban wanita dan mengenai masalah-masalah pengadilan. Juga dijelaskan mengenai penyesalan atas dosa-dosa. Dharma Sutra yang paling penting adalah Manusmriti atau Kode (Hukum) Manu. Kitab ini mempunyai 2.684 sloka yang diatur dalam 12 bab.

Urutan berikutnya adalah Yatnavalkya Smriti. Kitab ini memiliki 1.013 sloka. Yang lain yang penting adalah Gauthama Smriti. Hukum Manu masih sangat populer dalam masyarakat Hindu. Pelaksanaan dari kitab-kitab Dharma Sutra memiliki pengaruh abadi terhadap agama Hindu. Kitab-kitab itu merupakan tulang punggung dari etika dan moralitas Hindu. Tentu saja banyak dari ritual yang dijelaskan dalam kitab-kitab Dharma Sutra tidak lagi dipraktekkan dewasa ini. Tapi Pancha Maha Yajna masih dipraktekkan.

Ayah, Apa itu Panca Maha Yajna?

Lima kewajiban dharma sehari-hari yaitu:

  1. Dewa Yajna - persembahan atau pengorbanan kepada Tuhan.
  2. Brahma Yajna - persembahan kepada Tuhan Brahma .(di Indonesia, menjadi Reshi Yajna - pengorbanan kepada para petugas agama (Pendanda/Pemangku/Ida Resi/Sengguhu dll).
  3. Pitri Yajna - persembahan kepada roh leluhur.
  4. Nara Yajna - pengorbanan kepada sesama manusia (di Indonesia : Manusa Yajna).
  5. Bhuta Yajna - pengorbanan kepada roh selain roh manusia (spirits).


Source :   Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra)

Rig Weda

By With Tidak ada komentar:
APA SEBENARNYA ISI RIG WEDA?

Rig Weda adalah kitab Sruti yang paling utama. Ia terdiri dari 1,028 nyanyian pujaan (hymne) dengan jumlah total 10.562 baris yang dijelaskan dalam 10 buku. Satu hymne memiliki tiga bagian dasar. Bagian pertama adalah permohonan (exhortation), bagian kedua adalah pujian terhadap Dewa tertentu dalam bentuk doa, dan bagian ketiga adalah permohonan khusus (special request). Agama yang dijelaskan dalam Rig Weda dapat disebut Brahmanisme atau Wedisme. Dalam Rig Weda kita melihat bangsa Arya baru saja menetap di lembah-lembah sungai Indus dan memuja semua kekuatan alam seperti udara (Bayu), air (Baruna), matahari (Surya), bulan (Soma) dan api (Agni). Rig Weda tampaknya bukan kitab suci yang disusun selama periode waktu tertentu tapi satu kitab suci yang disusun dalam tahapan selama beberapa abad.

Satu ide yang paling penting yang datang dari Rig Weda adalah tatanan kosmik yang disebut Rta. Rta berarti "tatanan suci dan alam semesta ("cosmic and sacred order") satu tatanan paling harmonis dan tertinggi dari struktur realitas. Belakangan tatanan alam semesta yang disebut Rta ini menjadi atau disebut sebagai Sanathana Dharma atau "kebenaran abadi." Dharma tidak saja menjadi hukum universal tapi juga hukum moral dari agama Hindu.

Sekalipun dalam Rig Weda kita melihat satu masyarakat yang sedang berkembang memuja seluruh aspek alam semensta, kita juga melihat kelahiran dari pemikiran yang sangat maju dalam masyarakat itu. Silahkan baca apa yang disebut Hymne Penciptaan (Rig Weda X, 129, 7-7) di bawah ini :

"Akhirnya, siapa yang tahu, dan siapa yang dapat mengatakan Darimana semua ini datang, dan bagaimana penciptaan terjadi? Dewa-Dewa sendiri ada setelah penciptaan Jadi siapa yang sesungguhnya tahu kapan hal ini terjadi?

Kapan semua ciptaan ini dimulai?


Dia (Yang Maha Kuasa), apakah Dia membentuknya atau apakah Dia tidak membentuknya,
Dia Yang menyelidiki semua ini dari surga, Dia tahu - atau mungkin Dia tidak tahu."

Tidak ada pengarang khusus dari Rig Weda. Ia merupakan karya kolektif dari banyak Maharesi besar. Salah satu upacara terbesar dalam Rig Weda adalah upacara korban Soma. Soma adalah sejenis minuman yang diambil dari satu macam tanaman yang oleh banyak orang dikira cendawan. Rig Weda tidak memuat upacara kelahiran tapi Wiweha (perkawinan) dan kremasi dari orang mati. Dari semua Dewa-Dewa yang dijelaskan dalam Rig Weda, Rudra adalah yang paling penting. Dalamnya juga ada referensi mengenai perpindahan jiwa dari tubah ke tubuh lainnya.

AYAH, APA SESUNGGUHNYA AJARAN-AJARAN DARI UPANISHAD?

Seperti telah kusebutkan sebelumnya, Upanishad adalah kitab Sruti yang terakhir. Kebanyakan dari Upanishad dalam bentuk dialog antara para Maharesi atau antara Tuhan dengan para Maharesi. Brihad-Aranyaka dan Chandogya Upanishad adalah Upanishad yang paling panjang. Dr. S. Radhakrishnan mengatakan, "Begitu banyak penjelasan mereka tentang kebenaran, begitu banyak dugaan-dugaan mereka mengenai Tuhan, sehingga hampir setiap orang dapat mencari di dalamnya apa yang ia inginkan dan menemukan apa yang ia cari, dan setiap aliran pemikiran dogmatik mungkin menyelamati dirinya sendiri karena menemukan doktrinnya sendiri dalam ucapan-ucapan dari Upanishad-Upanishad itu."

Jadi pengajaran Upanishad sangat kompleks, dan pengaruh mereka terhadap agama Hindu sangat sulit untuk dinilai. Upanishad sesungguhnya membuka semangat pemikiran bebas dalam agama. Mereka menantang rasionalitas dari dewa-dewa dan upacara-upacara. Kebanyakan sloka-sloka dalam Upanishad awal dalam bentuk prosa dan mereka juga dalam bentuk tanya jawab. Beberapa buku yang sangat baik mengenai Upanishad ditulis oleh Hume, Dr. S. Radhakrishnan, R.D. Ranade, dan Swami Chinmayananda.

Salah seorang Maharesi terkemuka dari Upanishad adalah Yatnavalkya. Beberapa penanya dalam Upanishad adalah wanita bernama Maitreyi (istri Yatnavalkya) dan Gargi (putri dari Maharesi Vachaknu). Orang biasa yang membaca Upanishad secara tergesa-gesa akan menemukan kitab-kitab ini membingungkan dan berlawanan satu sama lain. Tapi bila dia mempelajari seluruh Upanishad dengan cara yang sangat teratur, maka ia akan mengerti arti sesungguhnya yang diberikan oleh kitab-kitab itu. Sekarang mari kita melihat secara singkat ajaran-ajaran pokok dari beberapa Upanishad utama.

Brihad-Aranyaka Upanishad (sangat populer di kalangan teolog Barat dengan nama Buku Besar dari Hutan/ "Great Forest Book") adalah salah satu dari Upanishad yang paling awal dan paling panjang. Salah seorang guru terbesar dari Upanishad ini adalah Maharesi Yatnavalkya. Yatnavalkya berkata, "Egkau tidak dapat melihat yang melihat segala sesuatu; engkau tidak dapat mendengar yang mendengar segala sesuatu; engkau tidak dapat memikirkan yang memikirkan segala sesuatu; engkau tidak dapat mengerti yang mengetahui segala sesuatu. Itu yang ada diluar semua pemahaman adalah jiwa (sang diri, self) yang ada di dalam dirimu."

Upanishad ini berbicara lagi mengenai sang diri secara lain, sbb :

"Ketika seorang bernafas, orang itu mengetahui dia sebagai nafas;
Ketika seorang bicara, orang itu mengetahui dia sebagai ucapan;
Ketika seorang melihat, orang itu mengetahui dia sebagai mata;
Ketika seorang mendengar, orang itu mengetahui dia sebagai telinga;
Ketika seorang berpikir, orang itu mengetahui dia sebagai pikiran."

(Brihad-Aranyaka) Inilah Upanishad yang sesungguhnya membedah aspek-aspek dari Tuhan. Ia mendiskusikan dewa-dewa yang banyak dan akhirnya menyatakan bahwa hanya ada satu Tuhan dan itu adalah Nafas (Breath). Upanishad ini juga menjelaskan Tuhan sebagai Brahman - Jiwa yang Absolut. Ia menyebutkan bahwa Atman - jiwa individu hanya sebuah refleksi (pantulan) dari Brahman.

Dalam dialog antara Raja Janaka (Ayah Dewi Sita) dan Maharesi Yatnavalkya, cahaya dari Brahman dijelaskan dengan satu cara yang sangat menarik. Menurut Upanishad ini, segala sesuatu di dunia ini memiliki nama, bentuk dan kegiatan. Yang Mutlak, yang tidak mengejawantah (unmanifest), adalah manifestasi dari ketiga aspek ini.

Salah satu dari doa yang paling populer dari agama Hindu datang dari Upanishad ini sebagai berikut:

"Tuntunlah kami dari yang tidak nyata ke dalam yang nyata,
Tuntunlah kami dari kegelapan ke dalam cahaya,
Tuntunlah kami dari kematian kepada kehidupan."
(Om Shanti, Shanti, Shanti, Om)

Bila seorang bhakta mengucapkan sembahyang atau doa, baris terakhir selalu ditambahkan pada doa itu.

Chandogya Upanishad adalah Upanishad panjang yang lain. Menurut Upanishad ini segala sesuatu adalah Brahman. Ia dengan jelas menyatakan bahwa pada awalnya adalah Mahluk, dan dunia ini adalah manifestasi dari padanya dan tidak menjadi atau berasal dari Non-being (ketiadaan).

Reshi Saudilaya berkata, "Pada waktu kematian, yang mengetahui Brahman harus memusatkan pikiran (meditasi) kepadanya. "Engkau tidak bisa dihancurkan;

Engkau adalah kenyataan yang tidak berobah; Engkau adalah sumber dari kehidupan." Dalam Sloka 3:14, Upanishad ini mengatakan:

"Sesungguhnya, seluruh dunia ini adalah Brahman. Biarlah tiap orang memujanya sebagai itu (as that) sebagai asal dari mana mereka datang, sebagai tujuan kemana mereka akan kembali, sebagai tempat dimana mereka akan lenyap menjadi satu, dan sebagai itu dengan mana mereka bernafas."

Katha Upanishad mulai dengan satu kisah. Sekali peristiwa adalah seorang terpelajar bernama Vajasrabasa yang sedang mengorbankan segala yang dimiliknya, (seekor kerbau tua, pen) dengan harapan untuk mendapat anugrah suci (surga, pen). Di tengah-tengah upacara korban itu, salah satu dari putranya, Nachiketa, memohon kepada ayahnya untuk mempersembahkan dirinya kepada Dewa Kematian, Yama. Akhirnya ayahnya mengorbankan putra yang dicintainya itu kepada Yama. Ketika anak ini mencapai kediaman Yama, Dewa Kematian itu bingung dengan tindakan Nachiketa dan memintanya kembali kepada ayahnya. Percakapan teologis yang hidup antara Nachiketa dengan Yama (dialog manusia dengan kematian, pen) adalah merupakan isi dari Katha Upanishad. Yama menjelaskan rahasia-rahasia tertinggi dari alam semesta dan hakikat dari Brahman (Tuhan) dalam Upanishad yang indah ini.

Kena Upanishad mengatakan bahwa itu yang tidak dapat dinyatakan dalam kata-kata dengan mana lidah bicara - ketahuilah bahwa itu Brahman. Itu yang dengan mana pikiran memahami - ketahuilah bahwa itu Brahman. Menurut Upanishad ini, Brahman adalah faktor utama (ultimate factor) dari alam semesta. Organ-organ indriya bekerja karena Brahman. Dia yang mengatakan mengetahui Barhman (sesungguhnya) tidak mengetahui Brahman, sebab mengetahui itu (dia) berarti melenyapkan identitas dari orang bersangkutan dalam Brahman, seperti sesendok garam yang mencoba menemukan dasar lautan manjadi satu dengan lautan itu. Mungkin itulah sebabnya mengapa mistikus China terbesar Lao-Tse berkata, "Dia yang mengetahui tidak mengatakan. Dia yang mengatakan tidak pernah mengetahui."

Aiteriya Upanishad memberikan satu kisah yang menarik mengenai penciptaan.

Kisahnya seperti berikut. Mula-mula ada Atman. Dia sendirian. Kemudian ia menciptakan air. Kemudian ia ingin menciptakan dewa-dewa. Kemudian dia menciptakan seorang manusia. Untuk orang ini satu mulut diberikan. Dari mulut itu keluar percakapan dan Tuhan Api. Kemudian Dia memberikan manusia ini lubang hidung dan dari lubang hidung ini datang nafas dan Tuhan Udara. Kemudian dia memberi manusia itu mata dan dari mata ini datang cahaya dan Tuhan Matahari. Kemudian dia memberi manusia ini lengan yang berbeda dan dari lengan-lengan itu datang banyak dewa-dewa. Akhirnya Atman memasuki manusia ini pada celah-celah rambut di kepala dan menjadi "Aku."

Prasna Upanishad merupakan dialog menarik antara Reshi Pippilada dengan para bhaktanya, bernama Sukesha, Gargya, Kousalya, Bhargava dan Kabhandi. .Diskusi dimulai dengan pertanyaan Kabhandi, "Tuan, bagaimana mahluk-mahluk menjadi (mahluk)" ("Sir, how did the creatures come into being?")

Mundaka Upanishad membedakan pengetahuan kedalam pengetahuan yang lebih tinggi dan lebih rendah. Pengetahuan yang lebih tinggi adalah pengetahuan dengan mana kita mengetahui realitas yang tidak berobah. Pengetahuan yang lebih rendah adalah Weda-Weda.

Mandukya Upanishad memuat pengajaran Reshi Mandukya mengenai empat tahap dari kesadaran, yaitu bangun (jaga), mimpi, tidur yang dalam (Sushupati) dan akhirnya Turiya. Keadaan Turiya itulah satu-satunya yang nyata. Atman hanya dapat direalisasikan dalam keadaan Turiya. Mandukya Upanishad adalah yang terkecil dari ketigabelasUpanishad utama.

Taittirya Upanishad berisi lima cara berbeda untuk menjelaskan dunia. Menurut Upanishad ini, Panca Butha atau Panca Tattwa, atau lima elemen dengan mana semua materi dibuat, masing-masing berasal dari satu sama lain. Misalnya, Ether (Akasha) lahir dari Atman, Udara (Wayu) lahir dari Ether, Api (Agni) lahir dari Udara, Air (Jala) lahir dari Api, dan Bumi (Pertiwi) lahir dari Air.

Shvetashvatara Upanishad memuat pengajaran dari Reshi Shvetashvatara. Tidak seperti Reshi-Reshi yang lain, dia mengajarkan theisme dan bukan Brahman Yang Mutlak (Absolut Brahman). Dia mengajarkan bahwa melalui meditasi orang dapat melihat Tuhan. Max Muller menjelaskan Shvetashvatara Upanishad sebagai "yang paling sulit, dan pada saat yang sama merupakan satu dari yang paling menarik dari karya sejenis." Adi Shankara sendiri mengatakan Upanishad ini berlawanan langsung dengan ide monistiknya. . Upanishad ini mulai dengan banyak pertanyaan teologis seperti, "Apakah penyebab dari kelahiran kita?" dan "Apa yang menunjang hidup kita?" Upanishad ini sangat banyak dikaitkan dengan Siwaisme dan kadang-kadang dianggap sebagai kitab suci dari sekte Siwaisme.

Anaku yang kusayang, mohon dipahami bahwa penjelasan-penjelasanku mengenai beberapa Upanishad utama amat sangat singkat dan karena itu kamu harus meluangkan waktu dan membaca beberapa buku untuk dapat menangkap dengan baik ajaran-ajaran dari Upanishad tersebut.

Source :   Ed. Viswanathan (Diterjemahkan oleh NP Putra)